Lewati ke konten

Silsilah ke-6 Muaqddimah- Sejarah Turunnya Al-Qur'an dan Perkembangan Ilmu Tajwid

Penulis: Abu Hanifa Muhamad Muslih | Tanggal Rilis Asli: January 27, 2021
Sumber: Tautan Telegra.ph

Sejarah Turunnya Al-Qur’an dan Perkembangan Ilmu Tajwid

A. Sejarah Turunnya Al-Qur’an

Al-Qur’an diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ melalui perantara Malaikat Jibril ‘alaihissalam, ayat yang pertama kali turun adalah surah Al-‘Alaq ayat 1-5.

Dan Ketika disampaikan kepada Nabi, Al-Quran telah diajarkan dan dibacakan oleh jibril kepada nabi dengan Tartil, sebagaimana ayat pada surah Al-Furqan atat 32 :

وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَوۡلَا نُزِّلَ عَلَيۡهِ ٱلۡقُرۡءَانُ جُمۡلَةٗ وَٰحِدَةٗۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِۦ فُؤَادَكَۖ وَرَتَّلۡنَٰهُ تَرۡتِيلٗا

Dan orang-orang kafir berkata, “Mengapa Al-Qur`ān itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil.

Kemudian Rasulullah ﷺ menyampaikan Al-Qur’an kepada umatnya melalui dua cara :

1. Secara Tertulis (ditulis dalam mushaf

2. Secara lisan ( periwayatan dengan pengucapan/suara)

Dan Al-Qur’an sampai kepada kita dengan dua cara tersebut secara Mutawatir

1 . Penyampaian Al-Qur’an dengan Tulisan

Seluruh bagian Al-Qur’an telah ditulis dihadapan Nabi Muhammad ﷺ setelah wahyu diturunkan, ada yang di tulis di pelepah kurma, kulit binatang, potongan tulang binatang. Zaid Bin Tsabit berkata :

كنت أكتب الوحي عند رسول الله صلى الله عليه وسلم فأكتب وهو يملي عليّ، فإذا فرغت قال: «اقرأ»، فأقرؤه، فإن كان فيه سَقط أقامه، ثم أخرج به إلى الناس».

Aku mencatat wahyu di sisi Rasulullah ﷺ dan beliau mendiktekannya kepadaku. Setelah aku selesai (mencatat) beliau berkata “bacalah!” Akupun membacanya. Jika (dalam bacaanku) ada yang kurang, beliau luruskan. Lalu setelah itu aku sampaikan kepada orang-orang (H.R. Ath Thabrani dengan sanad yang perawinya tsiqah)

Tulisan-tulisan yang masih tercecer tersebut kemudian disalin dan dikumpulkan dalam satu buku berupa Mushaf di masa khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq, inilah fase Pengumpulan Al-Qur’an (Jam’ul Qur’an)

Kemudian di masa khalifah ‘Utsman bin ‘Affan, dari Mushaf sebelumnya disalin menjadi beberapa Mushaf Al-Qur’an, kemudian beliau mengirim mushaf-mushaf tersebut (Mushaf Utsmani) ke berbagai wilayah kaum Muslimin bersama seorang Qori yang Ahli dan Mutqin untuk mengajarkan dan membacakannya kepada kaum Muslimin.

Kemudian kaum Muslimin menyalin mushaf-mushaf tersebut dengan salinan yang tak terhitung jumlahnya kemudian para Ulama menulis kitab-kitab yang berisi tata cara atau pengaturan cara penulisan Mushhaf Al-Qur’an (Ilmu Rosm Mushhaf)

Dan kini Mushhaf Al-Qur’an telah dicetak secara modern dan Profesional, dengan kualitas terbaik. salah satunya di Pusat Percetakan Mushhaf terbesar di Dunia Majma` Malik Fahd Li Thibaatil Mushaf asy-Syarif (King Fahd Glorious Quran Printing Complex) di Kota Madinah Al Mukarramah

2. Penyampaian Al-Qur’an dengan bacaan

Pada awalnya Jibril ‘alaihissalam turun membawa Al-Qur’an dan menyampaikan dan mengajarkan bacaannya kepada Nabi ﷺ dengan lafazh, makna dan hal-hal yang terkait dengannya. Termasuk cara membacanya dengan Tajwid.

إنَّ الله يحبُّ أن يُقرأ القرآنُ كما أُنزل

Sesungguhnya Allah menyukai Al-Qur’an ini dibaca sebagaimana dahulu diturunkan (H.R. Ibnu Khuzaimah)

Kemudian para Sahabat mempelajari bacaan Al-Qur’an langsung melalui mulut Rasulullah ﷺ, dan mereka membaca ulang di hadapan Nabi (Talaqqi/Musyafahah) sampai beliau akui bacaan Mereka.

Para Sahabat meriwayatkan bacaan Al-Qur’an kepada generasi selanjutnya dengan cara yang sama dan begitu seterusnya hingga bacaan Al-Qur’an sampai kepada kita, dan bacaan tersebut sampai kepada kita dengan tata caranya berupa Tajwid Al-Qur’an.

Diantara para sahabat yang direkomendasikan bacaannya adalah sebagaimana hadits Nabi

خُذُوا القُرْآنَ مِنْ أَرْبَعَةٍ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، وَسَالِمٍ، وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ “

Ambillah Bacaan al-Quran dari empat orang: Abdullah bin Mas’ud, Salim, Mu’adz bin Jabal, dan Ubay bin Ka’ab.” (HR. Bukhari dalam shahihnya no. 4999 dari sahabat Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu)

4 Sahabat tersebut adalah yang Ahli Membaca al-Quran, Imam an-Nawawi Rahimahullah menjelaskan hadits tersebut: “Rasulullah bersabda demikian disebabkan mereka adalah Sahabat yang paling tepat dalam mengucapkan lafazh-lafazh al-Qur’an, dan yang paling sempurna dalam membacakannya, walaupun para Sahabat yang lain lebih faqih (paham) tentang makna-makna daripada meraka. (Syarah Shahih Muslim)

B. Perkembangan Ilmu Tajwid

Pada abad ketiga Hijriyah, Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam menulis kitab tajwid yang diberi nama Kitāb al-Qirāat. Inilah yang ditenggarai sebagai kitab pertama dalam bidang Ilmu Tajwid berupa Natsr (uraian)

Para ulama menjelaskan bahwa Abu Muzahim al-Khaqani adalah ulama yang pertama kali menulis kitab tajwid. Nama lengkapnya Musa bin Ubaidullah bin Yahya bin Khaqan, yang lahir tahun 248 H dan wafat tahun 325 H.

Imam Ibnul Jazari Rahimahullah berkata:

هُوَ أَوَّلُ مَنْ صَنَّفِ فِي التَّجْوِيْدِ

“Dialah orang yang pertama kali menulis tentang tajwid.”

Tulisannya dikenal juga dengan nama al-Qashidah al-Khaqaniyah. Demikianlah sebagian ulama menyebutkan. Dan, pada bait yang ke-5 dari kasidahnya dikatakan:

أَيَا قَارئَ القُرْآنِ أَحْسِنْ أَدَاءَهُ * يُضَاعِفْ لَكَ اللهُ الجَزِيْلَ مِنَ الأَجْرِ

“Wahai qari al-Qur’an, baguskanlah bacaannya, niscaya Allah melipatgandakan untukmu padaha yang banyak.”

Tulisan Abu Muzahim ini sangat berpengaruh bagi perkembangan ilmu tajwid pada masanya dan masa-masa berikutnya. Terbukti setelah itu, bermunculanlah para ulama yang menulis kitab-kitab serupa seperti:

Abul Hasan Ali bin Ja’far bin Muhammad as-Sa’idi ar-Razi yang wafat pada tahun 410 H. Dia menulis kitab at-Tanbih ‘ala al-Lahnil Jaliy wal-Lahnil Khafiy.

Abu Muhammad Makki bin Abu Thalib al-Qaisi yang wafat pada tahun 437 H. Dia manulis kitab ar-Ri’ayah li Tajwidil Qira’ah wa Tahqiqi Lafzhit Tilawah.

Abu Amr Utsman bin Sa’id ad-Dani yang wafat pada tahun 444 H. Dia menulis kitab at-Tahdid fil Itqan wat Tajwid.

Ulama ini menyebutkan dalam muqadimah tentang latar belakang penulisan kitab itu, bahwa ia melihat para qari dan muqri di zamannya menyepelekan tajwid dalam tilawah al-Qur’an.

Tiga ulama tadi menulis tentang tajwid setelah Abu Muzahim Musa al-Khaqani dan mereka Rahimahumullah merupakan generasi pertama ulama tajwid.

Tiga ulama inilah yang mempopulerkan istilah tajwid dalam kitab-kitabnya. Secara khusus, mulai zaman ad-Dani, istilah tajwid telah ditetapkan dan menjadi nama yang dikenal bagi ilmu yang berhubungan dengan makhrijul huruf (tempat-tempat keluarnya huruf) dan sifat-sifatnya. Sebagaimana disebutkan oleh Dr. Ghanim Qadduri al-Hamad. (Abhats Fi ‘Ilmit Tajwid)

Lantas munculah Imamul Muhaqqiqin wa Ra-isul Muqri’in Abul Khair Muhammad bin al-Jazari as-Salafi Rahimahullah (wafat 833 H), seorang ulama yang mumpuni dalam ilmu qiraah dan tajwid. Dia menulis kitab at-Tamhid fi ‘Ilmit Tajwid. Selain itu, dia menulis mandzumah (syair) tentang tajwid yaitu al-Muqaddimah fi Ma ‘alaQari’ihi an ya’lamah, yang dikenal dengan al-Mandzumah al-Jazariyah.

Demikianlah para ulama dari dahulu sampai sekarang berkhidmat kepada Allah dengan memberikan perhatian yang begitu besar terhadap al-Qur’anul Karim.

Mereka mewariskan karya-karya yang agung dan sangat bermanfaat untuk Islam dan kaum muslimin dalam bidang ilmu-ilmu al-Qur’an dan tajwidnya.