Silsilah 23 Makharijul Huruf-Itmamul Harakat
Penulis: Abu Hanifa Mumu Muhamad Muslih | Tanggal Rilis Asli: May 24, 2021
Sumber: Tautan Telegra.ph
Itmâmul Harakât (Kesempurnaan Pengucapan Harakat)

Berkaitan dengan kesempurnaan harakat, Al-Imam Ahmad bin Badruddin Ath-Thîbi (w. 979 H) berkata dalam Manzhumah Al-Mufîd Fî Tajwîd mulai bait ke 60-66:
وَكُـلُّ مَضْمُـومٍ فَلَـنْ يَتِـمَّا * إِلَّا بِـضَـمِّ الشَّفَتَـيْنِ ضَـمَّـا
Dan setiap dhommah tidak akan sempurna kecuali dengan benar-benar mengumpulkan (memonyongkan) dua bibir
وَذُو انْخِفَاضٍ بِانْخِفَاضٍ لِلْفَـمِ * يَتِـمُّ وَالْمَفْتُوحُ بِالْفَتْـحِ افْهَـمِ
Dan khafadh (kasrah) dengan merendahkan/menurunkan rahang maka akan sempurna, dan fathah dengan membukanya. Fahamilah!
إِذِ الْحُرُوفُ إِنْ تَكُنْ مُحَرَّكَـهْ * يَشْرَكُهَا مَخْرَجُ أَصْلِ الْحَـرَكَهْ
Jika hurufnya berharokat, maka ia diiringi makhraj harakat asalnya,
أَيْ مَخْرَجُ الْوَاوِ وَمَخْرَجُ الْأَلِفْ * وَالْيَاءُ فِي مَخْرَجِهَا الَّذِي عُـرِفْ
Yakni makhraj Wâw, makhroj Alif dan yâ pada makharojnya yang telah diketahui
فَـإِنْ تَـرَ الْقَارِئَ لَـنْ تَنْطَبِقَا * شِفَاهُـهُ بِالضَّمِّ كُـنْ مُحَقِّـقَا
Maka jika engkau melihat seorang qâri tidak memonyongkan bibirnya (saat mengucapkan harakat dhammah), maka perbaikilah/koreksilah!
بِأَنَّـهُ مُنْتَـقِـصٌ مَـا ضَـمَّ * وَالْـوَاجِبُ النُّـطْقُ بِـهِ مُتَمَّـا
Dikarenakan ia kurang dalam memonyongkan bibirnya, dan wajib baginya untuk mengucapkannya dengan sempurna
كَذَاكَ ذُو فَتْحٍ وَذُو كَسْرٍ يَجِبْ * إِتْـمَامُ كُـلٍّ مِنْهُمَا افْهَمْهُ تُصِبْ
Demikian pula pada harakat fathah dan kasrah, wajib baginya mengucapkan keduanya dengan sempurna pula , pahamilah kaidah ini niscaya engkau akan benar (dalam membaca Al Quran)
A. Cara Pengucapan Harakat Fathah :
-Kaidahnya :

Posisi mulut untuk mencapai kesempurnaan harakat fathah
-Cara-caranya :
1. Membuka mulut sewajarnya
2. Posisi lidah rileks/mendatar
3. Bunyi yang keluar mirip vokal A untuk huruf tipis dan mirip O untuk huruf tebal
4. Harakat dikelurkan dari makhraj Al Jauf
5. Fathah ‘Arabiy adalah Fathul Wasath (pertengahan) bukan bunyi fathah seperti orang Indonesia dan bukan fathah yang miring seperti bunyi imalah
-Contoh/Latihan :
قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوۡلَىٰنَا
B. Cara Pengucapan Harakat Kasrah :
-Kaidahnya :

Posisi mulut untuk mencapai kesempurnaan harakat kasrah
-Cara Pengucapannya :
1. Membuka mulut dan menurunkan rahang bagian bawah (sedikit meringis/seperti tersenyum)
2. Posisi tengah lidah terangkat seperti ketika pengucapan huruf Yâ
3. Bunyi yang keluar seperti vokal I
-Contoh/Latihan :
إِنِّی ٱصۡطَفَیۡتُكَ عَلَى ٱلنَّاسِ بِرِسَـٰلَـٰتِی وَبِكَلَـٰمِی
C. Cara Pengucapan Harakat Dhammah :
-Kaidahnya :

Posisi mulut untuk mencapai kesempurnaan harakat dhommah
-Cara Pengucapannya :
1. Memonyongkan kedua bibir sehingga terdapat lubang di bagian tengah dari pertemuan bibir atas dan bawah
2. Posisi pangkal lidah terangkat seperti pada pengucapan huruf Wâw dan saluran menuju tenggorokan menyempit
3. Bunyi yang keluar mirip vokal U
-Contoh/Latihan:
وَسَلَـٰمٌ عَلَیۡهِ یَوۡمَ وُلِدَ وَیَوۡمَ یَمُوتُ وَیَوۡمَ یُبۡعَثُ حَیࣰّا
C. Cara Pemgucapan Sukun

Posisi mulut untuk pengucapan sukun (huruf ف)
Syaikh Ayman Rusydi Suwaid hafizhahullah dalam kitabnya yang fenomenal; At-Tajwiid Al-Mushawwar berkata:
“Harokat dhommah asalnya adalah huruf wawu yang dipendekkan, harokat fathah asalnya adalah alif yang dipendekkan, dan harokat kasroh asalnya adalah huruf ya yang dipendekkan. Oleh karena itu, suara harakat harus sesuai dengan suara huruf asalnya yang merupakan huruf-huruf mad, hanya saja durasi pada harakat dibaca lebih pendek.
E. Hal-hal yang harus diperhatikan
Diantara kesalahan-kesalahan yang biasa terjadi pada pengucapan harakat adalah :
1. Suara Fathah pada huruf tipis jangan sampai ditebalkan dan sebaliknya
2. Fathah pada pengucapan orang Arab (pada bacaan Al-Quran) menggunakan Fathul Wasath tidak boleh suara fathah menjadi seperti bunyi imalah atau taqlil
3. Ukuran panjang harakat harus sama yakni satu harakat tidak boleh kurang atau lebih
4. Tidak boleh membaca huruf yang berharakat seolah-olah meemulainya dari keadaan sukun, yang tepat adalah dengan langsung dikeluarkan dari makhraj aslinya
5. Tidak boleh mengeluarkan bunyi harakat dari Al Khaisyum (pangkal hidung) sehingga muncul suara sengau/dengung
6. Tidak boleh berlebihan membaca harakat dengan suara yang dibuat-buat/dipaksakan atau ditahan seperti bergumam atau membaca serampangan sehingga bunyinya menjadi tidak jelas
7. Tidak boleh memonyongkan bibir ketika mengucapkan Fathah pada huruf-huruf tebal
8. Suara harakat kasrah tidak boleh miring kepada fathah
9. Tidak boleh menebalkan suara Dhammah pada huruf-huruf Tipis
10. Tidak memonyongkan bibir pada pengucapan harakat Dhammah
Wallahu A’lam